"Baiklah.. Hati-hati ya Tha..", Mamanya mengizinkan mereka berdua pergi makan siang dan berjalan-jalan menghabiskan waktu weekend besama.
"Dadah Mama", Kata Tatha saat sudah berada di pintu rumah. Mamanya tidak menjawabnya, hanya tersenyum sambil duduk di sofa sedang membaca majalah wanita saat menatap anaknya melambaikan tangan kepadanya.
Tatha dan Hana berjalan kearah timur dari rumah Tatha, mereka memutuskan berjalan kaki saja, karena mereka ingin agak lama di jalan. Di jalan mereka berbicara banyak, kadang bercanda, bahkan menyanyi.
"Eh Han, tadi saat aku ke danau aku melihat ada laki-laki bernyanyi dan bermain gitar sangat keren! Wajahnya manis, dia sempat melihatku lalu dia tersenyum kepadaku!", Tatha menceritakan kisahnya di danau pagi tadi sambil tersenyum-senyum membayangkan senyum laki-laki itu yang sangat indah, sepertinya Tatha tertarik pada laki-laki itu.
"Oh ya? Apa kau sempat berkenalan dengannya? Siapa namanya??", Hana menjawabnya dengan rasa penasaran yang tinggi.
"Ummmm...", wajah Tatha menjadi sedikit cemberut.
"Tatha? Jangan bilang kau tidak sempat berkenalan dengannya..?", Wajah Hana terlihat kecewa.
"Hana.. Saat dia melihatku dan lalu tersenyum aku langsung ingat denganmu, lalu aku melirik jamku dan ternyata sudah jam 10.00, eh 11.00.. Jadi aku langsung lari dan tidak memperdulikannya lagi, tapi aku janji akan berkenalan dengannya kalau aku bertemunya lagi dan akan kukenalkan kepadamu kalau aku sudah akrab dengannya nanti", Tatha menjelaskan semuanya dengan detil dan cepat sekali, persis seperti seorang Mama yang mencereweti anak perempuannya.
"Mmm, baiklah.." Hana tersenyum kembali, walaupun dia sedikit pusing mendengar omongan Tatha yang secepat jet itu.
"Dadah Mama", Kata Tatha saat sudah berada di pintu rumah. Mamanya tidak menjawabnya, hanya tersenyum sambil duduk di sofa sedang membaca majalah wanita saat menatap anaknya melambaikan tangan kepadanya.
Tatha dan Hana berjalan kearah timur dari rumah Tatha, mereka memutuskan berjalan kaki saja, karena mereka ingin agak lama di jalan. Di jalan mereka berbicara banyak, kadang bercanda, bahkan menyanyi.
"Eh Han, tadi saat aku ke danau aku melihat ada laki-laki bernyanyi dan bermain gitar sangat keren! Wajahnya manis, dia sempat melihatku lalu dia tersenyum kepadaku!", Tatha menceritakan kisahnya di danau pagi tadi sambil tersenyum-senyum membayangkan senyum laki-laki itu yang sangat indah, sepertinya Tatha tertarik pada laki-laki itu.
"Oh ya? Apa kau sempat berkenalan dengannya? Siapa namanya??", Hana menjawabnya dengan rasa penasaran yang tinggi.
"Ummmm...", wajah Tatha menjadi sedikit cemberut.
"Tatha? Jangan bilang kau tidak sempat berkenalan dengannya..?", Wajah Hana terlihat kecewa.
"Hana.. Saat dia melihatku dan lalu tersenyum aku langsung ingat denganmu, lalu aku melirik jamku dan ternyata sudah jam 10.00, eh 11.00.. Jadi aku langsung lari dan tidak memperdulikannya lagi, tapi aku janji akan berkenalan dengannya kalau aku bertemunya lagi dan akan kukenalkan kepadamu kalau aku sudah akrab dengannya nanti", Tatha menjelaskan semuanya dengan detil dan cepat sekali, persis seperti seorang Mama yang mencereweti anak perempuannya.
"Mmm, baiklah.." Hana tersenyum kembali, walaupun dia sedikit pusing mendengar omongan Tatha yang secepat jet itu.